Surplus Neraca Perdagangan Indonesia pada Oktober Menguat, Meskipun Kontraksi Ekspor
Pada Oktober Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar $3,48 miliar, melampaui perkiraan ekonom yang sebelumnya memproyeksikan surplus sebesar $3 miliar. Badan Pusat Statistik Indonesia merilis data tersebut dengan dasar perkiraan dari 23 ekonom, yang berkisar antara defisit $240 juta hingga surplus $4,3 miliar.
Ekspor Menunjukkan Penurunan, Tapi Lebih Baik dari Perkiraan
Meskipun terjadi penurunan ekspor secara tahunan sebesar 10,43%, angka ini masih lebih baik dibandingkan perkiraan kontraksi sebesar 16,48%. Total nilai ekspor pada bulan Oktober mencapai $22,15 miliar. Penurunan ini dipengaruhi oleh harga komoditas ekspor utama seperti CPO, batu bara, dan nikel yang turun baik secara bulanan maupun tahunan.
Impor Juga Turun, Melampaui Perkiraan
Sementara itu, impor Indonesia mengalami penurunan tahunan sebesar 2,42%, melampaui perkiraan penurunan sebesar 7,20%. Total nilai impor pada Oktober adalah $18,67 miliar. Harga komoditas impor dan penurunan permintaan barang menjadi faktor utama dalam kontraksi ini.
Perincian Penurunan dalam Sektor Ekspor
Penurunan Tajam pada Komoditas Utama
Dukungan Pertumbuhan Ekspor dari Sektor Non-migas
Pertumbuhan ekspor bulanan didorong oleh pengiriman non-migas, terutama bahan bakar mineral, logam mulia, perhiasan, dan alas kaki.
Situasi Neraca Perdagangan
Meskipun terjadi kontraksi ekspor selama 5 bulan berturut-turut, Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan. Ini merupakan bulan ke-42 berturut-turut dengan surplus perdagangan, yang mana menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia yang cukup kuat. Terakhir kali defisit tercatat pada April 2020 selama awal pandemi.
Tiongkok Memimpin, ASEAN & Uni Eropa Berkontribusi
Menurut Badan Pusat Statistik, ekspor non-migas Indonesia pada Oktober 2023 menunjukkan kinerja positif. Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar dengan nilai ekspor mencapai US$5,78 miliar, diikuti oleh India (US$1,87 miliar) dan Amerika Serikat (US$1,82 miliar). Kontribusi ketiga negara ini mencapai 45,63%.
Selain itu, ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa juga memberikan kontribusi signifikan, masing-masing sebesar US$3,66 miliar dan US$1,26 miliar. Total nilai ekspor non-migas ke 13 negara tujuan mencapai US$14,87 miliar, naik 7,26% dibanding September 2023.
Peningkatan ini didorong oleh kenaikan nilai ekspor ke sejumlah negara utama, seperti Tiongkok (11,96%), India (24,91%), dan Jepang (11,23%). Meskipun demikian, beberapa negara mengalami penurunan ekspor, termasuk Korea Selatan, Taiwan, dan Belanda.
Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2023 mencapai US$22,15 miliar, naik 6,76% dibanding September 2023. Meskipun terjadi penurunan dibanding Oktober 2022 sebesar 10,43%, kinerja positif ini melampaui ekspektasi kontraksi sebesar 16,49%. Penurunan ekspor selama 5 bulan terakhir disebabkan oleh penurunan harga komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan nikel.
Kesimpulan
Meskipun tantangan global terus memengaruhi ekspor Indonesia, terutama dalam hal harga komoditas, surplus neraca perdagangan Oktober memberikan sinyal positif terkait dengan ketahanan ekonomi negara. Dengan memantau tren ini, pemerintah dapat mengambil berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.